Cerita Pendek
"Pesan di Balik Prasasti"
Sore itu, langit di Alun-Alun Tugu Malang tampak kemerahan. Bimo sedang duduk di bangku taman bersama Kakek Wiryo. Kakek kemudian menunjuk ke arah gedung Balai Kota yang megah.
"Bim, kamu tahu tidak? Malang itu bukan berarti nasib buruk," ujar Kakek memulai cerita. Bimo mengernyitkan dahi. "Lalu apa Kek?"
Kakek menjelaskan bahwa nama Malang berasal dari kata “Malangkucecwara”. Konon, nama itu tertulis di prasasti kuno. Artinya sangat dalam: "Tuhan menghancurkan yang batil (jahat) dan menegakkan yang benar". Kakek bercerita bagaimana dulu wilayah ini merupakan pusat Kerajaan Singhasari yang dipimpin Ken Arok.
Lalu, suasana berubah saat Kakek menceritakan zaman kolonial. "Dulu, Belanda membangun area Ijen itu sebagai kawasan hunian elit karena udara Malang yang sejuk. Tapi ingat, para pejuang kita tidak tinggal diam. Ada peristiwa 'Malang Bumi Hangus' di mana rakyat membakar bangunan penting agar tidak jatuh ke tangan penjajah kembali."
Bimo terpaku. Ternyata, setiap sudut jalan yang ia lewati setiap hari menyimpan darah, keringat, dan doa-doa para leluhur.